Minggu, 29 Juli 2012

PLTN: Raja Energi Masa Depan?


http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-pltn-_110706215440-814.jpg

Hendris Wongso, S.Si


Berprofesi sebagai penulis dan peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional-PTNBR Bandung
Ketersedian energi dunia dari tahun ke tahun terus menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, terutama sumber energi yang bersifat tak terbarukan yaitu bahan bakar fosil. Semakin menipisnya ketersedian energi fosil yang memasok sekitar 87,7% dari total kebutuhan energi dunia disebabkan oleh konsumsinya yang terus meningkat seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk dunia. Kondisi ini diprediksi akan menimbulkan krisis energi global pada masa mendatang karena tidak adanya keberimbangan antara cadangan energi fosil dengan jumlah penduduk yang ada. Akibatnya lonjakan harga minyak dunia menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. BP Statistical Review of World Energy (2011) memperkirakan bahwa jumlah energi fosil dari seluruh dunia hanya akan cukup digunakan sampai tahun 2050. Hal ini juga diperparah oleh dampak penggunaan energi fosil yang semakin terasa, terutama dalam menginduksi terjadinya peningkatan pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim yang mendunia. Melihat kenyataan ini, perlulah ada suatu gebrakan diversifikasi energi guna mencukupi kebutuhan energi penduduk dunia sekaligus menjadi solusi pengembangan energi yang berwawasan lingkungan.

PLTN Sebagai Solusi
Bila bicara mengenai diversifikasi energi maka akan ada banyak opsi untuk mewujudkan hal tersebut seperti penggunaan sumber energi dari panas bumi, batu bara, tenaga air (hidro), biomassa, solar cell, tenaga ombak, dan tenaga angin. Namun pertanyaannya saat ini, sumber energi apakah yang cocok dikembangkan oleh penduduk dunia khususnya di Indonesia? Melihat dari segi kelayakannya, beberapa sumber energi yang manjadi opsi tersebut masih belum menunjukkan prospek yang cerah jika dinilai dari berbagai faktor antara lain ekonomi, kondisi geografis, dan teknologi. Ketersediaan energi panas bumi dan batu bara juga tidak akan bertahan lama karena keduanya merupakan sumber energi tak terbarukan yang suatu saat akan habis. Untuk sumber energi alternatif lainnya seperti tenaga air (hidro), biomassa, solar cell, tenaga ombak, dan tenaga angin masih sulit dikembangkan secara optimal karena memerlukan teknologi yang cukup mahal.
Salah satu sumber energi yang memiliki prospek cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia adalah PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Hal ini didasarkan dengan banyak pertimbangan, yaitu energi nuklir lebih murah, dayanya sangat tinggi, ketersedian sumber bahan baku uranium dan plutonium cukup besar, dan berwawasan lingkungan. Jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya melalui kesetaraan energi, ternyata energi nuklir jauh lebih murah. Untuk satu pellet bahan bakar uranium akan dihasilkan energi yang setara dengan tiga barel bahan bakar minyak atau satu ton bahan bakar batubara atau 5.181m3 bahan bakar gas alam. Apabila dikonversikan ke nilai uang, angka-angka perbandingan tersebut akan memberikan fakta  bahwa energi nuklir sangatlah ekonomis.
Selain ekonomis, energi nuklir juga sangat ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas CO2 dan hujan asam yang biasanya dihasilkan oleh emisi bahan bakar fosil. Hanya saja satu hal yang perlu diperhatikan adalah pembangunan sebuah instalasi PLTN akan menimbulkan limbah radioaktif. Namun, limbah tersebut dapat dengan mudah dikendalikan sehingga tidak sampai mencemari lingkungan. Kondisi geografis Indonesia juga sangat mendukung untuk didirikannya PLTN khususnya pada daerah yang tidak dilalui oleh Ring of Fire (jalur gempa) seperti pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Irian. Hal ini menjadi pertimbangan yang cukup penting dalam rencana pendirian PLTN karena bencana gempa dapat saja menimbulkan dampak yang fatal pada sebuah PLTN.
Lebih lanjut, PLTN juga mampu memacu semangat modernisasi suatu masyarakat yang menjadi bukti tingkat peradaban sebuah bangsa. Tak dapat dipungkiri, proyek pembangunan PLTN akan dipenuhi dengan multidisplin ilmu dan teknologi yang modern. Hal ini dapat menjadi sebuah nilai tambah bagi Indonesia apabila sukses membangun PLTN karena penguasaan sebuah teknologi yang modern pasti berandil pada kebesaran peradaban sebuah bangsa.
Persepsi Masyarakat
Mungkin banyak dari kita saat ini yang masih paranoid bila mendengar kata “nuklir” dan hal tersebut cukup beralasan mengingat dampak negatif yang pernah ditimbulkan oleh nuklir, sebut saja peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, kecelakaan nuklir Chernobyl, hingga yang terbaru adalah kecelakaan nuklir Fukushima. Namun, daftar peristiwa tersebut hanyalah segelintir dampak negatif yang terjadi dan masih sangat kecil bila dibandingkan dengan manfaatnya selama ini.
Sebagai contoh, di Jepang energi nuklir di tahun 2010 memasok 30% dari total kebutuhan energi penduduknya dan pada kecelakaan Fukushima sama sekali tidak ada korban jiwa akibat radiasi nuklir, yang ada hanyalah korban gempa dan tsunami. Belum lagi bila dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti batu bara, energi nuklir justru menimbulkan resiko kematian yang lebih rendah. Data WHO (2007), menyebutkan bahwa batu bara dapat mengeluarkan bahan radioaktif yang 100 kali lebih besar dibanding dengan yang dihasilkan nuklir untuk menghasilkan jumlah energi yang sama.
Asalkan dikelola dengan baik, mulai dari aspek keselamatan hingga keamanan maka energi nuklir akan memberikan dampak yang besar bagi penduduk terutama dalam menjawab tantangan energi saat ini dan di masa yang akan datang. Namun, proses pembangunan sebuah PLTN tidaklah semulus seperti yang diperkirakan, perlu studi yang panjang untuk mewujudkannya. Ini adalah sebuah bukti bahwa pemerintah seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang tidak main-main dalam hal ini. Dengan demikian tidak ada alasan untuk kita bersikap paranoid dan fanatik terhadap energi nuklir apabila ada jaminan keselamatan yang layak.
Perlu Persiapan yang Matang
Untuk membangun PLTN diperlukan waktu yang cukup lama, tidak instan. Berbagai tahapan harus dilalui yang meliputi penyusunan perencanaan, pembuatan studi kelayakan, jajak pendapat penerimaan masyarakat, pembiayaan proyek, persiapan sarana dan tenaga kerja, dan terakhir penyusunan kontrak antar pihak-pihak terkait. Tahapan ini dilakukan dengan tujuan utama untuk menjamin keselamatan masyarakat. Bertolak dari hal tersebut, maka masyarakat tidak hanya menjadi objek kebijakan dalam usaha pembangunan PLTN tetapi juga ikut andil dalam perumusan kebijakan yang akan diambil.
Ketersedian infrastruktur nuklir yang dimulai dari penyiapan SDM, penelitian dan pengembangan, penyiapan kelembagaan, manajemen keselamatan, proteksi pekerja dan lingkungan menjadi kunci kesiapan pembangunan PLTN. Kesiapan infrastruktur tersebut tidak akan terlepas dari penguasaan teknologi yang mumpuni. Oleh sebab itu, dalam rangka mewujudkan kesiapan tersebut sangat diperlukan sinergi berbagai pihak baik itu pemerintah, swasta, maupun akademisi. Adanya sinergi yang berkesinambungan dalam upaya-upaya nyata untuk meyakinkan masyarakat menjadi suatu hal yang patut diupayakan. Lalu, dari semua jabaran di atas mungkinkah PLTN dapat terwujud dan menjadi raja energi di masa depan?Atau hanya berakhir pada sebatas wacana yang menyita daya dan dana? Semoga di masa depan Indonesia mampu membangun PLTN yang menjadi karya nyata produk inovasi menuju kemandirian bangsa sehingga dapat terlepas dari krisis energi yang sedang dan akan melanda. Semoga.



Sumber: Tekno kompasiana

Tidak ada komentar:

Silahkan Sahabat pilih dan inputkan kode emoticons di bawah ini untuk dapat melihat hasilnya. Ex: :) dan seterusnya.
:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* : 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))
Posting Komentar

Tidak ada komentar:

Silahkan Sahabat pilih dan inputkan kode emoticons di bawah ini untuk dapat melihat hasilnya. Ex: :) dan seterusnya.
:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* : 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))
Posting Komentar