Minggu, 29 Juli 2012

Sama-sama Melihat Mobil Listrik Lebih Dalam

Sejak mobil listrik (electric car) diuji coba oleh Meneg BUMN Dahlan Iskan di jalanan Jakarta, kendaraan yang satu ini telah menjadi pembicaraan di berbagai media, walaupun Pak Dahlan sendiri juga ikut2an menjadi topik diskusi terpisah (hehehe). Tulisan ini, yang dirangkum dari berbagai sumber, mencoba menelaah aspek mobil listrik agar konsumen otomotif seperti saya tidak terlalu larut dalam euphoria dini dan agar tidak kaget jika sudah berkenalan dengan mobil elektrik nanti.
Kalau keuntungan mobil listrik sudah bisa dibaca di mana2, mari kita lihat lagi apa yang bisa membuat kita agak ragu2 dalam memilih mobil listrik. Yang pertama mungkin jarak tempuh: kalau Anda hanya menggunakan kendaraan pribadi untuk transport dari rumah ke kantor pulang-pergi (atau date dengan yayang :p), mungkin ini pilihan yang cocok untuk Anda, mengingat sekali charge Anda bisa menempuh jarak 140 km. Tapi kalau dipakai untuk mudik, wah, mungkin harus pikir2 dulu. Kalau pulang kampung dari Jakarta ke Bogor (atau Bandung) mungkin tidak masalah tapi kalau tujuannya Jawa Tengah ke Timur (atau Sumatra) mungkin mobil BBM lebih cocok karena jarak tempuh yang lebih besar dan infrastruktur pengisian BBM yang sudah tersedia. Walaupun ini juga bisa diimprove dengan pembangunan stasiun pengisian sepanjang jalur mudik (misalnya, digabung dengan stasiun pengisian BBM yang sudah ada).
Point selanjutnya adalah pengisian baterai: Teorinya setelah dipakai pulang kerja atau rekreasi, mobil listrik akan di-charge kurang lebih 4 jam (atau semalaman) layaknya HP anda. Pertanyaanya: apakah rumah Anda sudah punya garasi dan apakah di garasi sudah ada stop kontak? Kalau Anda tinggal di apartemen atau rumah kost, mobil listrik tentu diparkir di luar, atau di gedung parkiran yang belum tentu berdekatan dengan stop kontak (kecuali mobil Anda diparkir dekat pos Satpam hihihi…). Kalau yang rumahnya belum ada garasi mungkin bisa diakali dengan menarik kabel extension dari rumah ke mobil listrik yang diparkir di luar. Resikonya adalah kalau hujan turun bisa berbahaya tuh, apalagi kalau sampai ada genangan air. Skenario terburuknya (dan mungkin juga terlucu): malam hari ketika mobil Anda di-charge di luar rumah, anak tetangga sebelah iseng2 main cabut kabel charger ke mobil listrik Anda (duh!). Akibatnya ketika pagi2 hendak berangkat kerja (ini pun kalau Anda tidak telat bangun pagi) mobil pun merengek2 mimik cucu dan akhirnya ngambek tak mau jalan… :(
Berikutnya adalah emisi. Benar, kalau dari knalpot mobil listrik, emisi yang dihasilkan tidak ada. Tapi bukan berarti mobil listrik bebas emisi. Stasiun pengisian baterai mobil bersumber dari pembangkit listrik. Kalau pembangkit listrik masih menggunakan bahan bakar berbasis fosil seperti batu bara, minyak dan gas bumi, maka tetap saja ada polusi yang dihasilkan (meskipun hanya terbatas di area pembangkit listrik). Namun untuk area dalam kota, mobil listrik bisa mengurangi polusi karena rendahnya emisi yang dihasilkan (mobil listrik pun masih mengeluarkan emisi akibat proses electric generation). Jadi perlu dikembangkan pembangkit listrik yang menggunakan renewable energy seperti tenaga angin (wind power), tenaga air (hydroelectricity), tenaga matahari (solar power), tenaga panas bumi (geothermal) atau yang terakhir tidal power yang menggunakan tenaga pasang-surut air laut. Tenaga listrik yang barusan disebutkan bukan hanya tidak bakal habis (beda dengan batu bara dan minyak) tapi juga lebih eco-friendly.
Masih berhubungan dengan emisi mobil listrik, perlu juga diperhatikan efek samping dari industri mobil listrik. Memang mobil listrik mendukung green environment tapi apakah pabriknya sudah siap? Bagaimana dengan limbah baterai bekas? Kalau pabrik lokal sudah bisa mandiri memproduksi sel baterai mobil, apakah standar lingkungannya sudah terpenuhi? Bagaimana menghandle polusi dari pabrik mobil listrik dan pabrik suku cadangnya? Tentu ini harus diimprove dengan studi lebih lanjut.
Dan yang paling ditunggu adalah harga. Dibandingkan dengan mobil BBM yang sudah beredar di pasaran, mobil listrik masih harus bersaing dalam soal harga (untuk periode sekarang ini). Komponen paling mahal (paling berat juga) adalah baterai. Menurut Dasep Ahmadi, produsen mobil listrik, harganya bisa mencapai 50 juta rupiah. Tentunya, seiring dengan perkembangan teknologi dan permintaan pasar yang meningkat, harga bisa lebih turun, meskipun butuh waktu yang lama. Toh kita masih ingat bukan, di awal 90an sedikit yang bisa membeli motor (apalagi mobil) karena harga. Tapi sekarang ini malah banyak motor/mobil yang dibeli sejalan dengan turunnya harga serta maraknya persaingan merek.
Intinya saya pribadi masih melihat situasi & kondisi sebelum migrasi ke mobil listrik. Ikuti terus perkembangannya dan catat kemajuan apa saja yang diraih. Untuk mobil listrik nasional saya berpendapat agar proyek ini tetap berjalan tapi dengan tujuan pengembangan potensi putra-putri bangsa dalam mengarungi kemajuan teknologi dan proses pembelajaran, bukan sekedar proyek mercusuar yang sekedar meningkatkan gengsi agar kelihatan maju di mata negara tetangga kita ataupun prestise golongan tertentu. Selain harus bersaing dengan mobil BBM yang sudah established, mobil listrik local kita juga harus berani bersaing dengan mobil listrik negara lain yang sudah maju.
Terima kasih telah membaca tulisan saya dan mohon maaf jika ada kesalahan di tulisan ini… :)



Sumber : Tekno Kompasiana

Tidak ada komentar:

Silahkan Sahabat pilih dan inputkan kode emoticons di bawah ini untuk dapat melihat hasilnya. Ex: :) dan seterusnya.
:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* : 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))
Posting Komentar

Tidak ada komentar:

Silahkan Sahabat pilih dan inputkan kode emoticons di bawah ini untuk dapat melihat hasilnya. Ex: :) dan seterusnya.
:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* : 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))
Posting Komentar